This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 11 Februari 2021

FENOMENA ARSITEKTUR INDONESIA DI ERA GLOBALISASI - KRITIK DAN SARAN

Oleh: Ar. Hamah Sagrim, ST

Gambar: Redesain Arsitektur tradisional Harit menjadi fila
sebagai bentuk-bentuk fenomenal yang dipersiapkan
menghadapi style globalisasi
Data: Hamah Sagri


Asitektur Indonesia terdiri dari klasik-tradisional, vernakular dan bangunan baru kontemporer. Arsitektur klasik-tradisional adalah suatu bentuk arsitektur yang dibangun semenjak zaman kuno. Arsitektur vernakular juga bentuk lain dari arsitektur tradisional, terutama bangunan rumah hunian, dengan beberapa penyesuaian membangun dari generasi ke generasi. Arsitektur Baru atau kontemporer lebih banyak menggunakan materi dan teknik konstruksi baru dan menerima pengaruh dari masa kolonial Belanda ke era pasca kemerdekaan. Pengenalan semen dan bahan-bahan modern lainnya dan pembangunan dengan pertumbuhan yang cepat telah menghasilkan hasil yang beragam.
A. FENOMENA ARSITEKTUR INDONESIA DI ERA GLOBALISASI – KRITIK DAN SARAN
Ketika negara-negara menjadi satu dalam kesatuan yang kokoh, maka pada saat ini akan terjadi pertukaran kebudayaan yang sangat cepat dan luar biasa pengaruhnya kepada perkembangan Arsitektur. Misalnya pada saat pertama era globalisasi maka akan terjadi suatu fenomena yang tidak kita duga sebelumnya, dimana segala hal yang menyangkut kehidupan manusia akan begitu dominan didalam pemecahan bentuk dari suatu bentuk dan ruangan.
Pada saat orang sudah mulai kehilangan identitas diri dalam berkarya, maka yang akan terjadi ialah semua orang akan mempunyai suatu selera yang hampir sama yaitu suatu bentuk yang sederhana, tetapi mampu memenuhi segala kebutuhan hidup mereka dari mulai tidur, bekerja, bersantai bahkan bersosialisasi dengan lingkungannya.
Ketika suatu negara merasa bahwa ciri kenegaraannya sudah tidak bisa dipertahankan lagi, maka yang akan terjadi adalah suatu bentuk arsitektur yang didominasi oleh pemenuhan kebutuhan utama dalam kehidupannya, dan yang pertama akan terlihat adalah bagaimana mereka mulai mengolah pemikiran yang sifatnya tidak individualis lagi tetapi lebih mengarah pada kebersamaan dengan lingkungannya karena disanalah mereka akan merasa bahwa ternyata di dunia ini tidak hanya ada satu bentuk arsitektur yang selama ini dia yakini, tetapi begitu banyak ragam arsitektur yang pada akhirnya akan menjadi suatu bentuk yaitu bentuk globalisasi “Globalized style”.
Melihat fenomena diatas, lalu apa yang akan terjadi di Indonesia dimana kita harus mempunyai kebanggan pada bentuk arsitektur tradisional kita dan harus berusaha menjadikannya menjadi arsitektur dunia, karena kalau tidak, bagaimana cara kita memasuki globalisasi. Untuk mengetahui apa dan bagaimana arsitektur kita nanti, sebaiknya kita menelusuri dulu Arsitektur tradisional kita. Pertama, bahwa didalam kehidupan masyarakta Indonesi,a sudah terjadi beberapa perbedaan yang mencirikan bahwa di Indonesia terdapat banyak sekali beragam suku bangsa, dimana mereka mempunyai adatistiadat dan kebiasaan yang hampir sama tetapi berbeda dalam pengungkapannya dan selalu menyatu didalam kebhinekaan itu. Kedua, apabila sebuah budaya lahir, itu berarti bangsa tersebut adalah suatu bangsa yang memiliki kebudayaan yang mencerminkan pola pikir ataupun kebiasaan hidup masyarakatnya. Ketiga, didalam perjalanan hidup, banyak bangsa Indonesia mengalami degradasi kebudayaan, karena begitu kuatnya pengaruh kehidupan barat, sehingga banyak sekali penduduk Indonesia yang merasa bahwa kehidupan jaman dulu atau yang kita sebut tradisional sudah banyak yang tidak sesuai lagi dengan tuntutan jaman (kuno), sehingga mereka lebih menyukai segala sesuatu yang berbau luar negeri. Keempat, didalam perenungan, seorang empu gandring Indonesia akan menjadi suatu negara yang sangat kuat dan hebat karena pada saat itu kerajaan Majapahit begitu kuat sehingga didalam perenungannya, negara itu akan menjadi negara besar sehingga banyak hal yang harus dipertahankan demi menjaga keutuhan kehidupan tradisional kita, dan hal ini membuat perkembangan arsitektur kita menjadi sangat terhambat bahkan cenderung berhenti tidak dapat berkembang lagi. Kelima, apabila kita menelusuri arah kemana kita akan pergi nanti, maka kita akan melihat suatu arah yang tidak pasti dan tidak jelas, karena kita dihadapkan pada berbagai macam pilihan perjalanan yang membuat kita tidak dapat memutuskan arah yang sesuai dengan keinginan kita sebagai orang Indoneisa, dan ketika suatu perubahan yang sangat drastis terjadi maka kita semua akan merasa kaget dan sedih, karena ternyata kita melangkah kearah masa depan yang tidak mencerminkan tradisi kita lagi.akibatnya kehilangan identitas budaya termasuk didalamnya  Arsitektur tradisional ikut hilang.
Inilah fenomena yang akan kita hadapi nanti, lalu apa yang harus kita lakukan, apakah mulai sekarang kita menghapus saja ciri kearsitekturan kita, atau kita membiarkan sesuatu terjadi secara alami tanpa harus ada yang diperjuangkan ataupun dipertahankan? Memang bagaikan, buah simalakama yang harus kita telan begitu saja, namun apa yang terjadi nanti karena kita tidak mempunyai kekuatan untuk dapat mempertahankan tradisi kita pada era globalisasi nanti. Lalu bagaimana nasib kita sebagai bangsa Indonesia ini? Apakah akan menyerah pada keadaan atau berjuang mempertahankan sesuatu yang sudah mendekati dan pasti akan hilang.
Disinilah letaknya renungan kita sekarang. Bagaimana kita harus bersikap dan bagaimana kita harus berbuat, karena hati nurani kita tidak dapat dibohongi bahwa kita harus tetap mempertahankan ciri budaya kita dalam dunia arsitektur. Kita tidak ingin penjajahan bentuk baru menjajah kita lagi . Kita tidak ingin arsitektur kita dijajah oleh arsitektur bangsa lain. Kita tidak ingin negara kita menjadi negara gado-gado karena tidak lagi terlihat budaya asli kita mendominasi kehidupan bangsa Indonesia. Jadi apa yang harus kita perbuat, karena sepertinya tidak ada pilihan yang dapat kita jadikan patokan kita melangkah? Analisanya begini, Apabila kita membuat suatu keputusan bulat untuk tetap mempertahankan Ciri arsitektur budaya kita, maka kita akan dihadapkan pada beberapa kendala besar yaitu :
a.    Arsitektur tradisional. Kita tidak dapat mengadopsi dengan baik segala hal yang berbau teknologi modern, karena arsitektur tradisional kita berangkat dari suatu pandangan kehidupan religius yang  sama sekali tidak memperhatikan adanya teknologi moderen. Apabila kita memaksakan kehendak terhadap bentuk arsitektur tradisional dengan memaksakan segala unsur yang berbau moderen kedalamnya, maka yang akan terlihat adalah bentuk yang sangat memprihatinkan karena sudah tidak jelas lagi dominasi budayanya.
b.    Dalam pembentukan pola hidup. Bangsa Indonesia sangat dipengaruhi oleh pemikiran kuno, yaitu bahwa kehidupan kita sudah ada yang mengatur dan kita tidak usah terlalu meyakini bahwa kita sendiri dapat mengatur kehidupan kita, jadi janganlah membuat suatu hal yang akan merusak citra kehidupan tadi dan jangan pula mencoba merubah sesuatu yang sudah diciptakan menjadi kehidupan kita, karena hal itu akan membuat kita tidak bahagia dan hal ini juga merupakan suatu penolakan pada takdir kehidupan kita. Pola ini sangat tradisional dan Merupakan sesuatu yang tidak pernah sejalan dan akur dengan sosial budaya moderen.
c.    Jika didalam pemikiran bangsa Indonesia sekarang tidak lagi dipengaruhi oleh hal-hal yang berbau kepasrahan kepada yang mengatur “yang Diatas”, maka kita akan dihadapkan pada hal-hal yang sifatnya lebih kepada sesuatu yang tidak jelas acuannya, karena begitu banyaknya hal yang tidak dapat kita cerna begitu saja, seperti halnya perkembangan teknologi yang kadang-kadang tidak dapat kita pakai apabila kita benturkan pada masalah pola hidup kita, dan hal ini akan membuat pola pikir kita menjadi tidak begitu terarah dengan jelas lagi. Kemana kita akan mengarah dan kemana kita akan pergi dan kemana kita akan menetapkan diri. 
Begitu banyak hal-hal diluar jangkauan pikiran kita yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi dan juga begitu banyak masalah yang muncul pada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan arsitektur Indonesia.
Seperti kata pepatah kuno yang mengatakan bahwa hidup tidak akan pernah berhenti apabila kita sendiri tidak menghentikannya atau memang kita sudah saatnya berhenti karena sudah takdir. Apakah pepatah ini akan kita kaitkan dengan kehidupan Arsitektur Tradsional kita ataukah kita akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan keberadaannya? Tentu saja jawabannya tidak mudah, dan memang tidak akan pernah mudah, karena keputusan apapun yang diambil kita harus melihat berbagai kasus dan problem yang muncul yang berpengaruh didalam kehidupan bangsa Indonesia ini dan yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi pengaruh yang datang yang diakibatkan oleh perkembangan bilateral dan perkembangan politik yang sangat berpengaruh pada pola kehidupan dan pola pikir masyarakat Indonesia, dan ini sangat berakibat pada perkembangan arsitekturnya.
Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya dan kira-kira kemana akan kita arahkan arsitektur Tradisional Nusantara dimasa depan nanti. Yang bisa kita lakukan mungkin  Pertama, kita harus melakukan suatu penelitian yang mencangkup gambaran awal terjadinya arsitektur tradisional di masing-masing daerah Nusantara yang tentu saja sangat penting sebagai acuan awal darimana kita akan mulai berpijak Kedua, kajian berikut adalah bagaimana arsitektur pada jaman itu dijadikan sebagai arsitektur tradisional kenapa bukan arsitektur Indonesia saja atau arsitektur jaman Belanda atau jaman Majapahit. Ketiga, apabila kita telah mendapatkan bagaimana kita memulai dan bagaimana kita mengetahui arsitektur kita pada jaman dulu maka kita dapat melihat bagaimana hal itu bisa menjadi suatu patokan untuk kita, apakah benar bahwa arsitektur yang kita kenal sebagai arsitektur tradisional itu adalah benar sesuai dengan tuntutan jaman waktu itu, atau apakah arsitektur tradisional hanya menggambarkan suatu pola kehidupan masyarakat pada jamannya. Keempat, kalau melihat lebih jauh kebelakang lagi, maka kita akan melihat suatu fenomena yang agak menyimpang dari apa yang kita lihat sekarang, dimana sekarang ini arsitektur tradisional se-olah-olah merupakan barang mati yang tidak bisa kita tawar lagi dan tidak bisa kita kembangkan lagi. Fenomena tersebut barangkali sebagai sesuatu yang membuat  kita dapat melihat dari suatu perubahan yang sangat drastis, dari pola kerajaan yang serba gemerlap dan serba menjadi suatu pola kehidupan rakyat yang serba sederhana, dan sepertinya dikuasai oleh suatu peradaban yang sangat bertumpu pada kehidupan keagamaan. Kelima, jika kita mencoba menelusuri lebih jauh maka kita akan menemukan bahwa peradaban bangsa Indonesia sudah sangat maju pada zaman kerajaan Majapahit dulu, dan dilanjutkan dengan zaman kerajaan Sriwijaya sehingga kalau kita sekarang ini begitu terpukau oleh datangnya arsitektur luar yang kelihatannya sangat modern atau sangat teknologis, maka hal ini sebenarnya akan membuat hati kita teriris pilu karena jaman dulu kita begitu hebat keluar, namun sekarang kita begitu terjepit oleh pengaruh luar. Keenam, jika dalam pandangan sempit kita seolah-olah tidak berdaya menghadapi pengaruh kemajuan jaman yang dicirikan oleh kemajuan teknologi, maka dalam pandangan yang lebih luas kita seharusnya bangga dengan pengaruh kita terhadap perkembangan peradaban pada jaman dulu.
Dari keenam faktor diatas, yang masih selalu menjadi perhatian adalah bahwa kita harus tetap mempertahankan arsitektur tradisional kita walaupun sebenarnya sudah sangat tidak mungkin lagi untuk bisa bertahan dalam era globalisasi nanti. Pertanyaannya adalah;  kita akan apakan arsitektur tradisional kita ini, akan kita ganti dengan sesuatu yang baru atau akan kita bina dan kembangkan sehingga mampu bersaing dengan arsitektur luar dan mampu kita jual keluar Indonesia sehingga arsitektur Indonesia mempunyai nama dan pengaruh didalam perkembangan arsitektur dunia.
Arsitektur Indonesia, apakah ada di Negara kita ini? Kalau ada bagaimana bentuk dan filosofinya dan kalau tidak ada kenapa sampai tidak ada padahal kita sangat bangga dengan berbagai macam bentuk bangunan yang menggambarkan ciri dari tiap daerah yang katanya sangat dikagumi oleh turis mancanegara. Dilihat dari letak dan posisi negara Indonesia, maka kita sangat strategis bagi aliran sirkulasi perdagangan maupun dari segi keamanan dunia karena negara kita terletak pada bagian yang mempunyai akses paling mudah untuk belahan dunia utara dan selatan yang artinya bagi perkembangan budaya Indonesia sangat rawan terhadap pengaruh yang dibawa oleh mereka yang akan memakai jalur ini yaitu bangsa-bangsa yang akan membina suatu hubungan bilateral dengan negara dibelahan bumi yang lain.
Mereka yang akan melalui jalur ini tanpa disengaja maupun disengaja akan membawa dampak yang cukup kuat terhadap budaya Indonesia yang memang sudah rawan terhadap budaya luar. Tetapi kalau kita simak lebih jauh, ternyata apa yang kita khawatirkan bahwa akan terjadi pengaruh yang akan berakibat merosotnya nila budaya kita, tidak pernah akan terjadi karena begitu kuatnya adat setempat sehingga budaya luar agak sulit berkembang dan hal ini adalah merupakan suatu potensi yang luar biasa bagi ketahanan negara kita terhadap pengaruh budaya asing.
Masuknya budaya asing yang ternyata sulit dibendung, justru karena akibat perkembangan teknologi yang sangat cepat sehingga informasi ataupun gambaran pola kehidupan yang sepertinya sangat menyenangkan tertangkap oleh masyarakat luas dari mulai kota besar sampai ke pedesaan terpencil dan ini tidak bisa dicegah lagi karena kita tidak bisa menghindar dari perkmbangan ini.  Akibatnya kita sudah bisa terka bahwa sebagian masyarakat kita tidak bisa lagi bertahan dengan budaya nenek moyangnya yang dinilai sudah ketinggalan jaman atau sudah kuno, dan inilah cikal bakal dari lunturnya budaya bangasa  kita.
Arsitektur adalah bagian dari ekspresi budaya masyarakat karena sangat berkaitan dengan pola pikir dan pola hidup penggunanya sehingga didalam perkembangannya sangat terlihat perubahan dalam bentuk, tata letak ruang dan perabotan serta peralatan lain yang dibutuhkan. Jadi, apabila kita akan mempertahankan arsitektur tradisional kita yang diharapkan menjadi ciri khas budaya kita, budaya yang akan kita pertahankan, karena sangat jelas terlihat akibat dari perkembangan teknologi yang merambah begitu cepat pada setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana kita dapat mempertahankan Arsitektur Indonesia, kalau kenyataanya Arsitektur Indonesia itu tidak ada karena yang sekarang selalu didengungkan adalah arsitektur tropis dan kalau bicara arsitektur tropis ternyata bukan kita saja yang memakai thema seperti itu, karena selain negara Indonesia masih banyak negara yang terletak didaerah tropis. Apakah Arsitektur Indonesia itu identik dengan Arsitektur Tradisional Papua, Maybrat, Imian, Sawiat, Sunda, Jawa, Bali, Sumba dan daerah-daerah lain, atau memang arsitektur Indonesia ini terdiri dari arsitektur arsitektur yang mempunyai ciri kedaerahan. Selama ini Arsitektur Indonesia hanya dikaji dan ditulis dengan bahsa ilmiah yang kedengarannya sangat filosofis dan sangat tidak dimengerti oleh orang awam karena belum pernah ada yang mencoba membuat bentuk yang jelas mengenai arsitektur Indonesia. Seorang arsitek luar pernah mencoba membuat disain banguna perkantoran yang katanya merupakan jelmaan dari filosofi arsitektur Indonesia dan yang terlihat adalah permainan bentuk atap tropis yang dipasang disetiap lantai, dan setelah kita lihat-lihat akihirnya kita bertanya apakah benar ini arsitektur Indonesia.  Dengan melalu keputusan para pejabat setempat, tiap daerah yang merasa mempunyai arsitektur trsadisional berusaha untuk mempertahankan bentuk arsitekur tradisional dengan membuat bentuk atap yang katanya itu merupakan ciri budaya setempat. Alhasul terlihatlah arsitektur daerah dengan bentuk atap yang aneka macam sesuai dengan permintaan para pejabat yang sepertinya tidak mengerti apa arti dari arsitektur itu sendiri. Ketidak mengertian ini sangat membingungkan para pembuat disain, karena dengan posisi jabatannya membuat para perencana harus mengikuti apa yang diinginkan mereka, karena tidak ingin dianggap tidak berbudaya kedaerahan. Jadilah arsitektur tradisional adalah arsitektur atap, yang penting atapnya menggambarkan ciri kedaerahan yang kuat tidak peduli apapun fungsi yang dinaunginya.
Tahun 2003 adalah langkah awal pada era globalisasi dimana kita sudah tidak mungkin lagi menghindar masuknya para ekspert asing ke Indonesia termasuk para arsiteknya, dan sudah bisa dipastikan arsitek kita harus bersaing keras dengan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan tendensi orang yang beruang memkai tenaga mereka sangat kuat karen Amereka masih sangat dipengaruhi oleh image bahwa segala sesuatu yang berbau asing pasti akan lebih baik. Selain hal itu, berbagai proyek besar yang melibatkan investor asing pun akan bermunculan, dimana mereka sudah barang tentu akan membawa tenaga expert mereka karena selain pesan dari negaranya sendiri juga masalah kepercayaan akan keahliannya. Maka sudah dapat kita bayangkan bahwa Indonesia akan kedatangan para arsitek yang mungkin keahlian dan kemampuannya masih jauh dibawah para arsitek dalam negeri. Tetapi mengapa merak begitu menakutkan dan mengancam kehidupan para arsitek dalam negeri? Pertama, andaikata masalahnya hanya karena investor asing yang membawa seluruh krunya dari negaranya, kita tidak bisa apa-apa kecuali pasrahn saja hanya mungkin ada sedikit pengharapan kepada petinggi negara yang akan membuat peraturan mengenai ketenaga kerjaan sehingga setiap proyek dengan investasi asing harus menyertakan tenaga ahli dari dalam negeri. Kedua apabila masalahnya terletak pada kwalitas arsitek luar, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk inovasi tenaga arsitektur.
B.   Arsitektur Klasik Indonesia
Ciri khas arsitektur klasik Indonesia dapat dilihat paada bangunan candi dengan struktur menaranya. Candi Buddha dan Hindu dibangun dari batu, yang dibangun di atas tanah dengan cirri khas piramida dan dihiasi dengan relief. Secara simbolis, bangunan candi adalah sebagai representasi dari Gunung Meru yang legendaris, yang dalam mitologi Hindu-Buddha diidentifikasi sebagai kediaman para dewa. Candi Buddha Borobudur yang terkenal dari abad ke-9 dan Candi Prambanan bagi umat Hindu di Jawa Tengah juga dipenuhi dengan gagasan makro kosmos yang direpresentasikan dengan sebuah gunung. Di Asia Timur, walau dipengaruhi oleh budaya India, namun arsitektur Indonesia (nusantara) lebih mengedepankan elemen-elemen masyarakat lokal, dan lebih tepatnya dengan budaya petani. 
Budaya Hindu paling tidak 10 abad telah mempengaruhi kebudayaan Indonesia sebelum pengaruh Islam datang. Peninggalan arsitektur klasik (Hindu-Buddha) di Indonesia sangat terbatas untuk beberapa puluhan candi kecuali Pulau Bali yang masih banyak karena faktor agama penduduk setempat.

A.   Arsitektur vernakular di Indonesia
Arsitektur tradisional dan vernakular di Indonesia berasal dari dua sumber. Pertama adalah dari tradisi Hindu besar dibawa ke Indonesia dari India melalui Jawa. Yang kedua adalah arsitektur pribumi asli. Rumah-rumah vernakular yang kebanyakan ditemukan di daerah pedesaan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti atap rumbino, daun sagu, ilalang, bambu, anyaman bambu, kayu kelapa, dan batu. Bangunan adalah penyesuain sepenuhnya selaras dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah di pedalaman Indonesia masih banyak yang menggunakan bambu, dan kayu, namun seiring dengan proses modernisasi, bangunan-bangunan bambu dan kayu ini sedikit demi sedikit diganti dengan bangunan dinding bata.
B.   Pengaruh Hindu dan Islam dalam Arsitektur Jawa
Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian utara muncul kerajaan Islam Pasai pada 1292. Dua setengah abad kemudian bersama-sama juga dengan orang-orang Eropa, Islam datang ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan Indonesia oleh kekuatan politik seperti di India atau Turki namun lebih melalui penyebaran budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat dijumpai di masjid-masjid, istana, dan bangunan makam.  
Kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai bergantinya periode sejarah di Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut meninggalkan kebesarannya dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad ke-14. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa "Zaman Klasik" di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman "beradab" dan juga bukanlah awal dari "Abad Kegelapan". Selanjutnya kerajaan-kerajaan Islam melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. "New Era" selanjutnya menghasilkan ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten pada abad ke-16 Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta dan Surakarta pada abad ke-18. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan ajaran-ajarannyapun diajarkan lebih dalam cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui sinkretisme, sayangnya hal inilah yang mempengaruhi ‘gagal’nya Islam sebagai sebuah sistem baru yang benar-benar tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat Prijotomo, 1988).
Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke-12 dan seterusnya dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Namun, perubahan dari gaya lama ke baru yang lebih bersifat ideologis baru dengan teknologi. Kedatangan Islam tidak mengarah pada pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan melihat dan menyesuaikan bentuk-bentuk arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan kembali sesuai persyaratan dalam Islam. Walaupun kebanyakan menggunakan konsep dasar kubah pada mesjid. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh dalam kasus ini. Bangunan ini sangat mirib dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru dibangun masjid setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di awal perkembangan Islam di Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan lokal yang ada di Jawa, dan tempat lain di Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap tengahnya. Dalam kedua budaya ini empat kolom utama atau Saka Guru mempunyai makna simbolis.

1)   Membangun Ketahanan Budaya Lokal Melalui Arsitektur Tradisional ­– Local Wisdom Campaign

Maju mundur atau pasang surut kebudayaan (culture) sepanjang sejarah kemanusiaan, secara mendasar ditentukan oleh bagaimana kebudayaan itu dijadikan sebagai kerangka acuan yang dijabarkan melalui suatu tatanan normatif. Sejarah membuktikan bagaimana Kebudayaan Mesir Kuno (Fharounic), Kebudayaan Lembah Sungai Kuning di Cina, Kebudayaan Indian Amerika (Astec dan Maya) runtuh karena kebudayaan itu ditinggalkan oleh manusia pendukung peradabannya. Kemudian kebudayaan akan kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan pola tindak dan pola laku bila didesak oleh adanya suatu sistem nilai baru, misalnya Revolusi kebudayaan di China, Modernisasi di Turki, Islamisasi di Arab dan Revolusi Bolsjewik di Rusia. Jadi dalam sejarah kemanusiaan banyak contoh menunjukkan bahwa pasang surut dan timbul tenggelamnya kebudayaan ditentukan oleh perubahan zaman dan kebudayaan lama didesak oleh suatu sistem nilai baru. Kebudayaan akan mengalami masa tumbuh dan berkembang, masa kejayaan atau masa keemasan dan masa kemunduran atau keruntuhannya bergantung sejauhmana pemilik mampu mempertahankannya sepanjang perubahan zaman. 
Di dalam Kebudayaan, sebenarnya terkandung dua daya atau potensi yang menyebabkan kebudayaan itu tetap eksis dalam kehidupan, pertama yaitu daya untuk melestarikan kebudayaan (preservatif) dan kedua yaitu daya menarik kebudayaan itu untuk maju (progresif). Di dalam dua daya inilah masyarakat pendukung kebudayaan berada dan menentukan kearah mana kebudayaannya. Untuk dapat menentukan ke arah mana kebudayaannya, maka masyarakat pendukung kebudayaan harus memiliki Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya (Cultural Resilience). Kesadaran Budaya adalah suatu bentuk perasaan yang tinggi soal rasa hati (gemoed), soal daya cipta dan tanggapan (verbeeldingskracht) dari budi dan daya (budhayah). Sedangkan ketahanan budaya adalah kondisi dinamis suatu bangsa untuk menghadapi segala macam bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang ditujukan terhadap kebudayaannya. 
Permasalahan yang dihadapi masyarakat sekarang adalah karena rapuhnya kesadaran budaya dan ketahanan budaya yang dimiliki, dan ini disebabkan oleh pertama adanya anggapan bahwa kebudayaan luar terutama kebudayaan barat (west) adalah superior dan kebudayaan sendiri terutama kebudayaan timur (east) adalan inferior, padahal sesungguhnya barat adalah barat dan timur adalah timur dan keduanya tidak bisa bersatu, malah Profesor Jan Romein dalam bukunya Aera Eropa mengatakan bahwa kebudayaan timur adalah kebudayaan yang menyimpang dari pola umum yang artinya apa yang di  timur dipositifkan justru di barat dinegatifkan. Sebagai contoh, bagaimana orang timur memandang fenomena alam secara subjektif dan orang barat justru memandang fenomena alam secara objektif. Anggapan bahwa kebudayaan luar adalah superior dan kebudayaan sendiri adalan inferior akan menyebabkan situasi masyarakat yang terasing dari kebudayaannya sendiri (cultural alienation). Faktor kedua penyebab rapuhnya Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya adalah pengaruh globalisasi dan teknologi informasi yang  menyebabkan terjadinya pemadatan dimensi ruang dan waktu, jarak semakin diperdekat dan waktu semakin dipersingkat, situasi seperti ini menyebabkan terjadinya banjir deras informasi (information glut) yang menghujani masyarakat dan nyaris tidak terkendali. Pada setiap terjadinya banjir pasti membawa limbah, yang dimaksud di sini adalah limbah budaya. Limbah budaya inilah yang sekarang merasuki hampir disetiap sendi kehidupan masyarakat. Sedangkan penyebab ketiga adalah terjadinya perubahan orientasi pada nilai- nilai budaya yang dilanjutkan dengan perubahan norma - norma dan tolak ukur perilaku warga masyarakat. Perubahan orientasi nilai menjelma dalam wujud pergeseran budaya (shift), biasanya cenderung dalam bentuk asimilasi dan akulturasi budaya, contohnya bagaimana saat pasangan pengantin mengenakan beragam macam baju pengantin disaat pesta, mulai dari mengenakan baju pengantin adat, baju pengantin Eropa dan baju baju pengantin lainnya, contoh lain, yaitu terjadinya pergeseran budaya dalam aturan menghidangkan makanan dari sistem yang menggunakan dulang ke sistem menghidangkan ala Francis, malah sekarang dalam acara ruwahan di kampung - kampung sudah menggunakan sistem Francis. Kemudian perubahan orientasi nilai juga menyebabkan persengketaan (conflict) yang melahirkan sikap ambhivalensi masyarakat. Sebagai contoh timbulnya pro dan kontra masyarakat ketika Artika Sari Devi yang diberi gelar oleh Lembaga Adat Serumpun Sebalai dengan gelar Yang Puan Jelita Nusantara harus mengenakan pakaian renang dalam pemilihan Miss Dunia. Sikap pro dan kontra terjadi karena masyarakat menilai Artika Sari Devi adalah Puteri Indonesia serta berasal dari Bangka Belitung yang sangat kental dengan budaya melayunya mau berpakaian mempertontonkan aurat yang bertentangan dengan nilai - nilai budaya yang dianutnya. Terakhir perubahan orientasi nilai pada masyarakat akan menimbulkan perbenturan (clash) yang melahirkan sikap penentangan (rejection), sebagai contoh ketika akan dibangun pendopo di belakang kediaman Gubernur yang direspon oleh masyarakat dengan ketidaksetujuan karena pendopo adalah bangunan dengan arsitektur vernakuler Jawa. 
Untuk membangun Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya di masyarakat maka perlu dilakukan upaya - upaya yaitu, pertama dengan meningkatkan daya preservatif meliputi upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan serta meningkatkan daya progresif berupa upaya -upaya peningkatan peran pemerintah, swasta, serta pemberdayaan masyarakat adat dan komunitas budaya. Perlindungan adalah upaya menjaga keaslian kebudayaan dari pengaruh unsur - unsur budaya luar atau asing dan penyimpangan dalam pemanfaatannya. Sedangkan pengembangan adalah upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas kebudayaan yang hidup di tengah - tengah masyarakat tanpa menghilangkan nilai - nilai yang terkandung di dalamnya dan kegiatan pemanfaatan adalah pemberdayaan kebudayaan untuk pemenuhan kebutuhan batin masyarakat baik dalam event yang bersifat sakral maupun profan. Upaya kedua untuk membangun Kesadaran Budaya dan Ketahanan Budaya di masyarakat adalah dengan memberdayakan nilai - nilai budaya baik nilai budaya yang terkandung di dalam kebiasaan budaya (cultural habits) maupun yang terkandung di dalam aturan budaya (cultural law). Baik nilai budaya yang tampak (tangible) maupun nilai budaya yang tak tampak (intangible). Diketahui bahwa kebudayaan dan peradaban dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi lisan seperti ungkapan tradisional, puisi rakyat (pantun, syair, tarian, dan gurindam), cerita rakyat (mitos, legenda, dongeng), nyanyian rakyat. Kemudian dapat diwarisi melalui tradisi setengah lisan seperti permainan rakyat, kepercayaan rakyat, upacara tradisional (daur hidup/life cycle, kepercayaan dan peristiwa alam), arsitektur tradisional/ vernakuler dan rumah adat, pengobatan tradisional, makanan tradisional, pakaian adat, pasar tradisional, pengetahuan dan tekhnologi tradisional serta dapat juga diwarisi melalui tradisi bukan lisan seperti bangunan bangunan kuno dan naskah-naskah kuno. Pemberdayaan nilai budaya pada prinsipnya adalah upaya untuk membuat sesuatu peristiwa budaya menjadi lebih bermanfaat, bermakna, lebih berfungsi dan berguna. kegiatan budaya yang menghasilkan nilai budaya adalah kegiatan - kegiatan yang dapat menuntun manusia berperilaku lebih beradab, dan sesuai dengan kaedah atau norma - norma yang berlaku di masyarakat. Perilaku beradab tersebut dapat terealisasi dalam kehidupan masyarakat bila nilai - nilai budaya tersebut sudah terinternalisasi dengan benar dalam sanubari masyarakat. Untuk mengupayakan terinternalisasinya nilai - nilai budaya diperlukan kerja keras dan upaya yang sungguh - sungguh dari seluruh komponen masyarakat termasuk penggiat budaya, apresian budaya dalam level apapun, oleh para pemangku adat, tokoh adat, dan pemuka adat. Sekarang ini untuk mempermudah pemberdayaan nilai - nilai budaya sehingga terinternalisasi dengan baik, hal utama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan event atau peristiwa budaya yang berhubungan dengan peristiwa kemasyarakatan yang biasanya diikuti oleh banyak orang dan mendatangkan anggota masyarakat lainnya, baik peristiwa yang berhubungan dengan agama, peristiwa yang berhubungan dengan adat, maupun peristiwa yang berhubungan dengan siklus kehidupan. Upaya terakhir untuk membangun kesadaran budaya dan ketahanan budaya adalah dengan memperkuat dan mengukuhkan identitas dan jatidiri, karena di dalam jatidiri terkandung kearifan - kearifan lokal (local wisdom) dan local genius
Setiap masyarakat betapapun sederhananya, memiliki Kebudayaan yang dikembangkannya sebagai respon terhadap lingkungan fisik, lingkungan sosial dan lingkungan buatan di sekitarnya. Perbedaan antara lingkungan fisik, sosial dan buatan itulah yang menyebabkan perbedaan kebudayaan di masyarakat. Oleh sebab itu salah satu kebijakan dalam pengembangan kebudayaan adalah upaya untuk menguatkan identitas dan kekayaan budaya nasional yang bertujuan untuk memperkenalkan, menguatkan dan mendorong kreatifitas budaya masyarakat agar mampu berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Kehidupan manusia selalu dikelilingi oleh peristiwa budaya, proses pembentukan peristiwa budaya di atas berlangsung berabad - abad dan betul - betul teruji sehingga membentuk suatu komponen yang betul - betul handal, terbukti dan diyakini dapat membawa kesejahteraan lahir dan batin, komponen inilah yang disebut dengan jatidiri. Di dalam jatidiri terkandung kearifan lokal (local wisdom) yang merupakan hasil dari local genius dari berbagai suku bangsa yang ada. Kearifan lokal inilah seharusnya kita rajut dalam satu kesatuan kebudayaan untuk mewujudkan suatu nation (bangsa) yaitu Bangsa Indonesia dan sebagai alat untuk meredam berbagai konflik horizontal yang terjadi di masyarakat yang marak terjadi di berbagai daerah saat ini.

2)   Peran Arsitektur Dalam Fenomena Lingkungan

Arsitektur merupakan salah satu seni produk kebudayaan. Sementara Kebudayaan Nusantara berakar pada Kebudayaan Tradisionalnya, begitupun Arsitektur Tradisional juga merupakan akar dari Arsitektur Nusantara. Kita kenal bahwa arsitektur tradisional sangat beranekaragam di Indonesia, seiring dengan keanekaragaman suku bangsanya. Sulit rasanya memilih arsitektur tradisional mana yang bisa mewakili, karena riskan sekali rasanya bila memilih salah satu arsitektur tradisional sebagai wadahnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu wujud arsitektur tradisional dari suku bangsa tertentu pasti akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat suku bangsa tersebut. namun demikian, apakah suatu suku bangsa tertentu akan merasa bangga dengan arsitektur tradisional dari daerah lain? Kita ambil hematnya saja bahwa, biarlah suatu suku bangsa memakai arsitektur tradisionalnya, begitupun yang lainnya, asalkan ditempatkan dengan sesuai. Jadi, sebenarnya yang kita perlukan adalah jiwa berarsitektur dari masyarakat tradisional tersebut. Sehingga tidak perlu lagi kita menciplak total pada arsitektur tradisional tertentu. Yang perlu kita ejawantahkan adalah pesan-pesannya ataupun konsep dasarnya. Kemudian diinterpretasikan dengan kreatifitas baru pada latar belakang kehidupan sosio-budaya masyarakat yang terus ‘berkembang’ saat ini. Pada intinya arsitektur tradisional mempunyai konsep dasar kesemestaan yang universal, sehingga mampu mengiringi perjalanan hidup manusianya sepanjang zaman.
Pada hakekatnya arsitektur adalah keterpaduan antara ruang sebagai wadah, dengan manusia sebagai isi yang menjiwai wadah itu sendiri. Dengan kata lain dalam arsitektur terdapat perwujudan ruang (meliputi fungsi, tata-susunan, dimensi, bahan, dan tampilan bentuk) yang sangat ditentukan oleh keselarasan kehidupan daya dan potensi dari manusia di seluruh aspek hidup dan kehidupannya (meliputi norma/tata-nilai, kegiatan, populasi, jatidiri, dan kebudayaannya).
Manusia sebagai makhluk  yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk sekaligus sebagai makhluk sosial, dalam setiap kegiatannya senantiasa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Adalah sesungguhnya bahwa manusia itu dalam bersosialisasi membutuhkan dan memiliki jangkauan interaksi pada tiga jalur arah. Pertama, berinteraksi dengan Sang Pencipta (sosio-spiritual/religius), meliputi kegiatan ibadah-spiritual maupun aplikasi amaliah dari norma dan tata-nilai yang telah ditetapkan-Nya pada dua jalur berikutnya. Kedua, berinteraksi dengan sesama manusia (sosio-kultural), baik antar pribadi dengan pribadi, pribadi dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok, berdasarkan norma dan tata-nilai sosio-spiritual/religius di atas. Ketiga dan terakhir, berinteraksi dengan alam semesta sebagai sesama makhluk ciptaan (sosio-natural/universal), yakni manusia sebagai pembina sekaligus pengguna setiap unsur daya dan potensi alam agar berdaya-manfaat secara tepat-guna dan berkesinambungan sehingga tercipta hidup dan kehidupan yang makmur bersahaja. Ketiga jalur arah interaksi ini merupakan inti dasar kegiatan manusia untuk bermasyarakat, yang seluruhnya harus diwadahi secara terpadu, setimbang, dan dinamis dalam ruang arsitektur.
Dapat disimpulkan dari semua paparan diatas bahwa manusia dalam berarsitektur merupakan wujud terbaik dari aturan yang ditetapkan-Nya dalam menjaga alam sebagai tempat hidupnya, dan menjaga hubungan dengan sesamanya sebagai teman hidupnya. Inilah wujud kesemestaan. Dalam keadaannya saat ini, kelestarian alam sudah sangat terabaikan. Pemanasan global dan bencana banjir adalah wujud akibat yang ditimbulkan, dan arsitekturlah yang berperanan besar dalam mewujudkannya. Sehingga tema Arsitektur Ramah Lingkungan dengan konsep kesemestaan patutlah untuk diangkat.




Share:

TEORI EVOLUSI ARSITEKTUR

Nama Teori      : EVOLUSI ARSITEKTUR 
Silabus Teori    : Evolusi Arsitektur adalah Teori yang mempelajari tentang Perkembangan dan 
                            Perubahan Arsitektur dari Tradisional ke Moderen. 
Tahun Lahir    : 2015

Pencipta           : Ar. Hamah Sagrim, ST 


Dalam menciptakan Teori ini, kami menggunakan metode evolusi sehingga dilakukan analisis dalam evolusi arsitektur Tradisional ke Moderen. Teori Evolusi arsitektur  Adalah sebuah teori yang diusulkan oleh kami dalam menganalisis perkembangan arsitektural dari tradisional hingga pada arsitektur moderen. Oleh karena arsitektur mengalami perkembangan dan perubahan dari fase yang sederhana hingga fase yang lebih highligt (disebut sebagai evolusi arsitektur) maka sudah semestinya dianalisis dengan menggunakan teori evolusi arsitektur.  
Teori Evolusi arsitektur menjadi dasar yang dipakai dalam menganalisis perkembangan arsitektur karean teori evolusi lahir dari sebuah kesadaran berwacana sebagai bagian dari proses berarsitektur. Tujuan kami mengemukakan Teori evolusi arsitektur  sebagai suatu konsep dalam menganalisis, mengamati, meneliti, mencari, menemukan dan mendata, perkembangan dan perubahan arsitektur. Selain itu, Teori Evolusi arsitektur bertujuan merangkum tulisan-tulisan yang mengetengahkan beragam isu arsitektur dari berbagai sudut pandang perkembangannya. Semuanya bertujuan untuk memperkaya wacana dalam berarsitektur, baik terkait dengan mengalami arsitektur, membuat arsitektur dan mempertanyakan arsitektur. Eksplorasi teori dan metoda desain menjadi inti wacana dalam usulan Teori Evolusi yang mendukung praktek desain arsitektur berbasis riset dan teori melalui eksplorasi tanpa batas untuk mengetahui perkembangan dari awal hingga bentuk yang lain. Teori Evolusi arsitektur berupaya menjembatani perkembangan dan perubahan arsitektur dengan berlandaskan teori dan praktek dalam berarsitektur, serta mengungkap secara jelas proses perubahan arsitektur dari batas antara arsitektur dan bukan arsitektur. Selamat berwacana!

A.   MENDEFINISIKAN EVOLUSI ARSITEKTUR

Evolusi arsitektur secara sederhana didefinisikan sebagai perubahan pada bentuk atau aliran suatu arsitektur dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Walaupun demikian, definisi "evolusi arsitektur" juga dapat ditambahkan dengan klaim-klaim berikut ini:
  1. Perbedaan pada komposisi bentuk antara aliran arsitektur yang terisolasi oleh nuansa arsitektur lain mengakibatkan munculnya aliran arsitektur baru.
  2. Semua aliran arsitektur  yang sekarang dikembangkan merupakan suatu sistem nilai dan karya dari nenek moyang yang berbeda. 
B.   MEMBAGI  ALIRAN EVOLUSI ARSITEKTUR
     1.   Aliran Evolusia Arsitektur Predeterminisasi
Adalah aliran evolusi arsitektur yang mempelajari perubahan Aliran arsitektur yang berkembang disetiap suku bangsa di muka bumi ini yang mana ia berkembang dan berubah menurut cara tertentu sesuai tata cara dan perilaku suku bangsa tersebut masing-masing dengan bentuk yang seragam dalam berbagai macam sifat arsitektural.
Perubahan bentuk arsitektur berkembang dari yang sederhana hingga menjadi moderen dan kompleks dengan melewati tiga tahapan utama evolusi, yaitu: tahap liar (savagery), yaitu tahapan evolusi arsitektur yang berkembang pada zaman manusia masih hidup liar ditemukan pada generasi pertama, tahap biadab (barbarism), tahapan evolusi arsitetektur yang berkembang pada zaman kehidupan manusia masih biadab, ditemukan pada generasi kedua, tahap Peradaban (civilizationmerupakan tahapan terakhir evolusi arsitektur yang berkembang pada zaman manusia hidup beradab, ditemukan pada generasi ketiga.
     2.   Aliran Khususan Sejarah Arsitektur
Adalah aliran evolusi arsitektur yang mempelajari tentang perubahan arsitektur mulai dari sejarahnya. Sangat kecil untuk memformulasi hukum universal dalam menguasai semua bentuk aliran arsitektur yang ada di dunia. Arsitektur sangat kompleks keragaman dan nilainnya. Oleh karena itu, Untuk mengenal dan memahami suatu aliran arsitektur, perlu dimulai dari sejarahnya.
     3.   Aliran Difusi Arsitektur
Kebanyakan pandangan dari aspek arsitetkur, mengatakan bahwa arsitektur moderen dikembangkan di barat dan kemudian menyebar ke seluruh dunia melalui kontak orang luar dengan orang barat. Difusi arsitektur adalah aliran evolusi arsitektur yang mempelajari penyebaran arsitektur dari suatu wilayah ke wilayah lain namun diubahkan atau disubtitusikan oleh aliran arsitektur setempat. Ciri khas sebuah arsitektur yang terdapat dalam suatu wilayah kebudayaan, (culture area) berkembang maju dan bersumber dari suatu pusat kebudayaan (culture centre).
     4.   Aliran Fungsionalisme Arsitektur
Adalah aliran evolusi yang mempelajari semua perubahan aliran arsitetkur yang selalu berkembang untuk memuaskan kebutuhan manusia, yang mana fungsi dari unsur arsitektur itu sendiri adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar yang kemudian memunculkan kebutuhan sekunder.
     5.   Aliran Fungsional Struktur Arsitektur
Adalah aliran evolusi yang mempelajari tentang semua perubahan unsur arsitetkur yang berkembang dengan tujuan untuk mempertahankan struktur sosial individu, masyarakat dan suku bangsa. Fungsi arsitetktur dalam struktur sosial suatu masyarakat adalah sebagai sebuah elemen jaringan dari hubungan-hubungan sosial.
      6.   Aliran Evolusi Baru
Adalah aliran evolusi yang mempelajari tentang perkembangan arsitektur dengan dorongan oleh material yang tersedia, baik tingkat pertambahan, maupun cara penggunaannya. Penguasaan teknologi yang lebih maju memberikan manusia pemikiran yang baru yang lebih inovatif sehingga banyak menghasilkan perubahan bentuk arsitektur dalam perkembangan hidupnya.
     7.   Aliran Ethnosciencearsitektur
Adalah aliran evolusi arsitektur yang mempelajari seluk beluk pengetahuan manusia dalam mendirikan arsitektur. Pada umumnya manusia mendirikan arsitektur menurut aturan yang disadari maupun yang tidak disadari telah diresapinya sebagai suatu pengalaman. Pengungkapan aturan yang mendasari manusia mendirikan arsitektur sebagai dasar untuk menjelaskan hal yang dilakukan oleh manusia terutama alasan mengapa ia membuat sebuah bentuk arsitektur sedemikian rupa sehingga dapat diketahui sebab-sebab terjadinya perubahan bentuk.
     8.   Aliran Ekoarsitetkur
Adalah aliran evolusi arsitektur yang mempelajari perubahan Variasi aliran arsitektur yang dipengaruhi dan dibatasi oleh adaptasi manusia terhadap lingkungannya.  Lingkungan fisik dan sosial berpengaruh pada perkembangan arsitektur.

C.    ARSITEKTURAL DALAM PERKEMBANGAN EVOLUSINYA
Evolusi arsitektur adalah proses perubahan pada seluruh bentuk aliran arsitektur dari bentuk semula menjadi bentuk yang baru, dan evolusi arsitektur mempelajari bagaimana evolusi ini terjadi pada perkembangan arsitektur. Dalam setiap bentuk perkembangan arsitektur,  mewarisi aliran khas arsitektural yang dimiliki oleh suku bangsa tertentu melalui proses membangun dan mendesain bentuk. Perubahan bentuk ini dapat kita katakana sebagai suatu proses mutasi atau proses perpindahan bentuk arsitektural. Proses mutasi atau perpindahan bentuk arsitektural ini dimaksud bahwa bentuk arsitektural itu tetap dipertahankan atau mengalami perubahan total. Pada bentukkan ini, jika tidak dipertahankan maka akan muncul bentuk-bentuk aliran arsitektur baru pada pengembangan  suatu bentuk gaya arsitektural. Pada populasi suatu arsitektur tradisional, beberapa nilai dan filosofis serta alirannya akan menjadi lebih dikenal secara umum, bila tetap dipertahankan, akan tetapi yang lainnya akan hilang jika tidak dipertahankan. Unsur-unsur arsitektur yang menjadi akibat daripada keberlangsungan perubahan bentuk arsitektur  akan lebih berkemungkinan berakumulasi pada bentuk suatu aliran arsitektural yang tidak fasih dikembangkan (hilang). Proses ini disebut sebagai seleksi arsitektural, yang mana didorong oleh bentuk dan keindahan “estetika”. Proses assimilasi bentuk arsitektural itu terjadi akibat keinginan manusia yang bersemangat untuk memiliki suatu bentuk bangunan rumah yang berbeda, indah dan estetis, mengikuti aliran bentuk lain yang baginya sesuai namun sebenarnya tidak bernilai bagi budayanya. Keinginan semacam inilah akhirnya menghasilkan banyak jumlah populasi bentukkan gaya arsitektur asing semakin berkembang di suatu kawasan tanpa memperdulikan keterwarisan khasanah khas setempat. ini merupakan fakta tambahan mengenai perkembangan arsitektur yang mendukung dasar-dasar ilmiah seleksi arsitektural itu. Gaya dorong seleksi arsitetktur dapat terlihat dengan jelas pada populasi yang terisolasi, seperti Arsitektur Joglo di Jogja dan Solo, Arsitektur Halit-Mblo Chalit di Maybrat, Imian, Sawiat, Papua, Arsitektur Honai di Wamena Papua, Arsitektur Tongkonan, Arsitektur Meru, dan arsitektur nusantara lainnya di Indonesia yang kini terdesak oleh proses ilmiah seleksi arsitektur. Selain itu, terjadinya proses ilmiah seleksi arsitektural ini juga dipengaruhi oleh alam atau juga disebut sebagai seleksi alam. Bentuk perkembangan arsitektur yang dibentuk oleh seleksi alam dapat dilihat pada skematika perkembangan bentuk rumah mulai-mula.

Para ahli antropologi bersepakat bahwa, perkembangan hidup manusia mula-mula mempunyai tempat hunian pertama pada Bandar pohon, kita sebut sebagai, selanjutnya menggunakan lubang batu atau Goa, kemudian mulai membentuk sebuah shelter “kita sebut saja Generasi Pertama”, kemudian membentuk suatu rumah tanpa dinding, dan kemudian melengkapinya dengan dinding, sebut saja “generasi kedua”, selanjutnya hingga bentuk moderen, “generasi ketiga”. Moderen di sini tidak membicarakan bentuk lokalitas, akan tetapi berkaitan dengan industrialisasi, yang mana memaksa manusia untuk berkecimpung dalam paham materialistik. Kaitan materialistik dengan arsitektural ini adalah pengembangan dan pembangunan arsitektural dari bentuk sederhana yang berubah menjadi bentuk moderen yang dipengaruhi oleh material bangunan. Yaitu bentuk sederhana yang tadinya menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh dari lingkungan alam sekitar menjadi terputuskan dengan pola pengembangan bangunan rumah dengan menggunakan bahan industrial, seperti senk, semen, paku, dan yang lain sebagainya. Inilah disebut sebagai tahapan evolusi arsitektur melalui seleksi bahan. Kami membagi tahapan evolusi arsitektur dalam tiga generasi sebagaimana diurai berikut. Untuk memperkuat ide tentang evolusi arsitektur, maka kita akan uraikan secara tahap demi setahap perubahan arsitektural ditinjau dari evolusi bentuk bangunannya: 



 


Share:

RUMUSAN TEORI-TEORI BARU ARSITEKTUR

         Diciptakan oleh: Ar. Hamah Sagrim, ST 


Pendahuluan
     Paper ini mendiskusikan tentang konsep-konsep teoritis baru yang menjadi dasar
pijakkan bagi para ilmuwan dalam mengembangkan arsitektural, oleh karena itu sangatlah miskin jika tak ada gagasan kelahiran teori baru bilamana tak ada pemikir dan ilmuwan yang meluangkan waktunya untuk melakukan penyusunan-penyusunan dan hipotesis untuk memperoleh konsep dan idea baru dalam perumusan-perumusan baru yang dijadikan sebagai teori sentral. Arsitektur merupakan sesuatu yang kompleks karena mewadahi sistem nilai si pemilik, arsitektur sebagai simbol kewibawaan si pemilik, arsitektur sebagai simbok kehormatan, kejayaan, dan sejarah sebuah bangsa, semua itu diatur dalam teorinya sendiri-sendiri yang membentuk suatu keutuhan arsitektur. oleh karenanya sebagai ilmuwan dituntut dan menjadi kewajiban untuk selalu mengembangkan ilmu dan teori yang lebih sempurna dan menyentuh langsung pada pengembangan suatu ciptaan yang baru, seperti pengantar membentuk arsitektur dari bentuk tradisional ke bentuk moderen dengan mempertahankan syle, nilai, proporsi, aliran, venusitas, dan intensitasnya.
         Saya coba mendefinisikan metoda baru dengan mengembangkan rumusan-rumusan konsep yang disajikan sebagai teori-teori baru yang diharapkan memperkaya pengetahuan tentang arsitektur. 
     Kata Kunci: Teori dan Arsitektur
     
  
A. Rumusan Baru Teori Arsitektur
      Banyak teori yang lahir dari pemikiran ilmuwan arsitektur, akan tetapi tidak sebatas itu dan pasti akan banyak teori baru yang lahir, karena arsitektur merupakan bagian daripada perilaku manusia yang fenomenal, sehingga sudah pasti akan semakin banyak pengalaman manusia yang didapati dalam fenomena kehidupan berarsitektur, dan  fenomena kehidupan berarsitektur itu akan disusun secara ilmiah menjadi teori baru tentang arsitektur yang lahir dikemudian hari nanti sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Menurut kami, arsitektur merupakan intepretasi akal sadar manusia tentang kenyamanan, filosofis, simbolis, dan nilai. Manusia mulai menciptakan arsitektur baginya sebagai tempat bernaung dan beraktifitas yang memberikan kenyamanan. Dalam berbagai macam persepsi tentang arsitektur, kami melihat arsitektur menurut pandangan lain bahwa, arsitektur itu tergolong sebagai sesuatu yang rasional dan Empiris. Berangkat dari kedua pandangan ini sehingga kami coba membuat spekulasi Teori menurut pemikiran Rasionalisme dan Empirisme menjadi Teori Rasionansi Arsitektur dan Teori Empirisme Arsitektur dalam mempelajari Arsitektur. Kedua Teori yang dispekulasi tersebut, memiliki pandangan yang sesuai untuk dipergunakan sebagai bagian daripada teori arsitektur.       Kedua Teori spekulasi ini, berpandangan bahwa, arsitektur sebagai tempat atau ruang bernilai yang diciptakan bagi ketenangan, kenyamanan, dan strategis, Menurut konsep pemikiran Rasionansi Arsitektur. Sedangkan Empirisme Arsitektur berpandangan bahwa,  Pemikiran tentang arsitektur tidak dibawa oleh manusia semenjak lahir, melainkan melalui proses hidup sebagai pengalaman yang fenomenal. Kita akan melihat uraian kedua Teori Spekulatif ini secara bersama.

1.   Rasionansi Arsitektur
     Rasionansi Arsitektur.  Merupakan teori spekulatif dari pemikiran rasionalisme, yang sengaja diusulkan sebagai suatu teori baru. Bahwa arsitektur merupakan gerakan rasionalis, yang dapat kita jadikan sebagai suatu dokrtin yang menyatakan bahwa suatu bentuk arsitektur  haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta. Oleh karena itu, kami memberikan predikat nama teori ini dengan Rasionansi Arsitektur. Nama tersebut sesuai dengan Predikat Pemikirannya, yaitu bahwa Rasionansi Arsitektur mempunyai kemiriban dari segi ideologi dan tujuan. Dalam hal pemikiran Rasional, arsitektur bertujuan sebagai sebuah wahana bagi kehidupan, baik kelompok maupun tunggal, dan pemikiran ini cukup beralasan logis.
Rasionansi Arsitektur mengatakan bahwa, arsitektur sebagai tempat atau ruang yang diciptakan bagi ketenangan, kenyamanan, dan strategi.  Pendapat lain daripada Aliran pemikiran Rasionansi Arsitektur bahwa, arsitektur tidak memilih manusia, namun sebaliknya, bahwa yang memilih dan menciptakan arsitektur adalah Manusia. Rasionansi Arsitektur tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya.  Karena, Arsitektur dapat diterapkan secara lebih umum dan lebih khusus. Tergantung yang membutuhkannya.
      Teori Rasionansi Arsitektur ini dapat dijadikan sebagai teori arsitektur dalam terapan umum dan terapan khusus dalam berarsitektur. Mengapa demikian? Karena Teori Rasionansi Arsitektur mengatakan bahwa, arsitektur tidak dibutuhkan hanya sekedar sebagai tempat tinggal, melainkan arsitektur sebagai Nilai, Kaidah, dan Simbol (simbol Kejayaan bangsa, Simbol Kejayaan Negara, simbol Kejayaan suku, simbol agama, simbol adat istiadat, dan lain sebagainya), sehingga aliran teori Rasionansi Arsitektur menganggap, segala sesuatu itu memiliki ide dan membutuhkan kenyamanan. Rasionansi Arsitektur juga mengatakan bahwa, Arsitektur tidak sebagai sesuatu yang umum saja, tetapi juga sebagai sesuatu yang pribadi, yaitu arsitektur sebagai nilai individu, Kaidah individu, simbol indidvidu,  (simbol kemampuan seseorang, simbol kebesaran seseorang, arsitektur menjadi sebab stratifikasi. dll) karena Teori Rasionansi Arsitektur menempatkan dirinya pada posisi yang holistik juga khusus, sehingga ia dapat diterapkan secara umum dan khusus. oleh karenanya, Teori Rasionansi Arsitektur sebagai sesuatu yang pemikirannya berkaitan dengan Manusia secara umum, perorangan (Individu), Kelompok dan juga berkaitan dengan objek kaku seperti Gedung, Kota, Jalan, Pelabuhan dll. 


2.   Empirisme Arsitektur.
    Empirisme ArsitekturMerupakan suatu teori baru yang diusulkan sebagai aliran dalam pemikiran berarsitektur. Teori ini menganut pemikiran Empiris, yang menyatakan bahwa, semua pengetahuan tentang arsitektur itu berasal dari pengalaman manusia. Pemikiran tentang arsitektur tidak dibawa oleh manusia semenjak lahir, melainkan melalui proses hidup (permagangan) sebagai pengalaman. Dengan pemikiran demikian, maka predikat nama daripada Teori ini disebut Teori Empirisme Arsitektur.
     Berangkat dari Spekulasi pemikiran empirisme, sehingga muncullah teori Empirisme Arsitektur ini. Teori Empirisme Arsitektur berpendapat bahwa, manusia ketika melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan arsitektur, mereka terlebih dahulu mendapatkan inspirasi dari hidup sebagai suatu pengalaman yang mendorong pemikiran mereka untuk berencana, bergerak, mendesain, dan membuktikan semua rencana itu secara nyata. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, arsitektur merupakan sesuatu yang lahir dari pengalaman empirik. Inilah aliran utama dalam pemikiran Teori Empirisme Arsitektur yang coba kami ketengahkan dari spekulasi teori Empirisme untuk dijadikan sebagai sebuah teori dalam berarsitektur.Walaupun kelihatannya pemikiran kedua Teori ini sebagai spekulasi Teori, namun keduanya memiliki nilai aksiomatika, yang mana terdapat arah pemikiran dan pandangan penting dalam memaknai dan membaca serta mempelajari arsitektur secara beralasan dan logis.      Disadari bahwa, betapa pentingnya teori untuk menjadi rujukan praktik. Kita tidak boleh terlalu ditekankan, meskipun banyak arsitek mengabaikan teori sama sekali. Menurut Kami: "Praktik dan teori adalah Pangkal arsitektur. Bukti arsitektur sebagai hasil elaborasi pemikiran dan kreasi. Didalam berpikir dan berkreasi, pasti muncul pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kreasi, pertanyaan-pertanyaan itu lalu dijawab oleh pemikiran. Ketika persoalan itu dapat diselesaikan, maka merupakan suatu pengalaman dalam berkreasi. Dengan demikian maka pemikiran tersebut akan tetap dipertahankan sebagai jalan atau pola utama dalam berkreasi. Pemikiran ini akhirnya dijadikan sebagai suatu teori. Dengan demikian bahwa, arsitektur atau segala perilaku dan kreasi manusia, merupakan hasil dari teori dan praktik. Tanpa teori praktik tidak berjalan dengan sempurna, begitupun sebaliknya bahwa tanpa praktik, teori tidak berguna. Praktik adalah tindak lanjut daripada khayalan, Rencana, Rancangan, Angan-angan, yang berkelanjutan terhadap pelaksanaan sebuah proyek atau pekerjaannya dengan tangan, dalam proses konversi suatu kreasi bentuk dengan cara yang terbaik. Teori adalah hasil pemikiran beralasan yang menjelaskan proses konversi suatu kreasi menjadi hasil akhir sebagai jawaban terhadap suatu persoalan. Seorang arsitek yang berpraktik tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktik hanya berpegang kepada "bayangan" dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktik, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan".
      Konsepsional saya bahwa sebuah Ilmu lahir dari teori, dan sebuah teori lahir dari pengalaman yang disusun secara ilmiah untuk dipelajari. Semua itu merupakan sistem pengetahuan. Keragaman Persepsi Tentang Arsitektur
    Arsitektur merupakan kata yang familiar bagi masyarakat. Namun apakah masyarakat paham apa yang disebut arsitektur? Dan sejauh mana pemahaman mereka mengenai arsitektur? Pertanyaan-pertanyaan tesebut memang bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Tulisan ini pun tidak akan benar-benar menjawab semua hal tersebut. Tulisan ini akan lebih banyak membahas mengenai perbedaan pandangan yang ada di masyarakat mengenai pemahaman mereka tentang arsitektur.        Sebelum sampai ke pembahasan mengenai arsitektur itu sendiri, saya akan sedikit membahas mengenai asal mula arsitektur. Asal mula arsitektur dapat dipahami dengan baik bila orang memilih pandangan yang lebih luas dan meninjau faktor-faktor sosial budaya, dalam arti seluas-luasnya, lebih penting dari iklim, teknologi, bahan-bahan dan ekonomi (Catanese & Snyder, 1991). Rapoport (dalam Catanese & Snyder, 1991) juga mengungkapkan bahwa arsitektur bermula sebagai tempat bernaung. Menurut kami, perlu ditambahkan bahwa arsitektur bukan sekedar membicarakan seni membangun, tetapi arsitektur membicarakan sistem nilai. Asal mula arsitektur menurut kami, lahir atas dasar keperluan, dan keperluan itu muncul karena mempunyai nilai sehingga semakin lama semakin dipertahankan dan dikembangkan. Kebanyakan anggapan di masyarakat bahwa arsitektur adalah sesuatu yang berhubungan dengan bangunan sebagai tempat tinggal, namun bagi kami, arsitektur juga sebagai sesuatu yang memiliki predikat nilai. Sebagai contoh Bangunan Ibadah, bukan sekedar dimaknai sebagai wadah perkumpulan orang beriman, tetapi dimaknai sebagai tempat suci, tempat pertemuan manusia dengan Tuhan, bangunan Sakral. Oleh karena itu, sebenarnya arsitektur tidak terbatas pada bangunannya, akan tetapi makna, nilai, dan simbol-simbol dan ornament ikut memberikan pengaruh besar.       Rapoport (dalam Catanese dan Snyder, 1991) mengungkapkan bahwa arsitektur telah ada sebelum arsitek pertama, yang biasa dianggap sebagai perancang piramida berbentuk tangga di Mesir. Dari penjelasannya dapat diambil kesimpulan bahwa pada awalnya arsitektur memang lebih terkait kepada bangunan, terutama bangunan untuk tempat tinggal yang masih banyak dipengaruhi oleh adat, sehingga pembuatannya banyak memasukkan unsur adat. Kemudian dengan semakin majunya zaman, maka hasil karya arsitektur semakin bermacam-macam bentuknya. Dan cakupannya pun semakin lebih luas, tidak hanya pada bangunan saja. Pendefinisian mengenai arsitektur pun akhirnya semakin kompleks. Menurut kami, permulaan membangun sebenarnya dilakukan oleh pencipta alam semesta ketika menciptakan langit dan Bumi. Dan sang arsiteknya adalah Allah sang pencipta langit dan bumi itu sendiri. Menurut kami, Bapak arsitek pertama adalah Allah pencipta langit dan bumi. Manusia adalah penerima ilham darinya.       Dalam mendefinisikan arsitektur, memang bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Sudah banyak buku yang membahas mengenai topik tersebut dan sudah banyak pula perdebatan yang dilakukan untuk membahasnya, tetapi tidak ada satu pun yang dapat menjawab dengan pasti what is architecture? Hal tersebut disebabkan karena begitu kompleksnya arsitektur. Berikut ini beberapa definisi mengenai architectur dari beberapa acuan:      Berdasarkan kamus, kata arsitektur (architecture), berarti seni dan ilmu membangun   bangunan. Menurut asal kata yang membentuknya, yaitu Archi = kepala, dan techton = tukang, maka architecture adalah karya kepala tukang. Arsitektur dapat pula diartikan sebagai suatu pengungkapan hasrat ke dalam suatu media yang mengandung keindahan.          Menurut kami, kata arsitektur mempunyai pengertian lain dengan dua kata yang tidak begitu berbeda pula, yaitu: arch Seni. Esensi lain yang tersirat dalam makna Seni adalah; BudayaFilosofi, Makna, Kaidah dan Nilai. dan techture Warna. Esensi lain yang tersirat pada makna Warna adalah; Fariasi, Aliran, Bentuk, Makna, Nilai dan wujud.       Menurut O’Gorman (1997) dalam ABC of Architecture, arsitektur lebih dari sekedar suatu pelindung. Arsitektur bisa jadi merupakan suatu wujud seni, namun memiliki perbedaan, yaitu arsitektur menggunakan seni sebagai sesuatu yang penting untuk digunakan sebagai interior.         Menurut Le Corbusier: ”architecture is the masterly, correct and magnificient play of masses seen in light. Architecture with a capital A was an emotional and aesthetic experience”. Beberapa definisi arsitektur di atas menunjukkan bahwa ada banyak pendapat yang berbeda mengenai pengertian arsitektur. Pendefinisian itu bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung di bidang arsitektur saja. Masyarakat awam yang mengalami hasil dari arsitektur itu pun memiliki pemahaman sendiri mengenai arsitektur.        Pada masyarakat awam, mereka lebih memahami arsitektur sebagai sesuatu yang berhubungan dengan merancang bangunan. Oleh karena itu seringkali mereka mengaitkan arsitektur dengan bangunan dan tempat tinggal. Sebenarnya pemahaman mereka tidak salah, hanya saja masih belum tepat, karena arsitektur mencakup banyak hal tidak hanya merancang bangunan. Dan arsitektur pun dapat dimanifestasikan dalam berbagai hal, seperti arsitektur sebagai sebuah simbol, arsitektur sebagai sebuah ruang, arsitektur sebagai suatu nilai dan sebagainya. Akan sulit memang bagi mereka untuk dapat memahami arsitektur dengan benar-benar tepat, karena seperti yang saya ungkapkan pada paragraf sebelumnya, arsitektur merupakan sesuatu yang kompleks. Bahkan bagi orang-orang yang berkecimpung di bidang arsitektur pun belum tentu dapat mendefinisikan arsitektur dengan tepat, meskipun mungkin mereka sudah lama berkecimpung di bidang tersebut.        Bagi orang yang berkecimpung di bidang arsitektur umumnya pemahaman mereka mengenai arsitektur berbeda dengan masyarakat awam. Mereka pun umumnya lebih dapat memandang arsitektur secara luas dan lebih terbuka. Banyak dari mereka yang berpendapat bahwa arsitektur merupakan bagian dari kehidupan, yang mencakup segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan dekat dengan manusia. Konsep tersebut lebih dikenal sebagai konsep Architectural Everyday. Dan karena arsitektur berhubungan dengan yang ada di sekitar dan dekat dengan kehidupan manusia, maka arsitektur berhubungan pula dengan ruang dan perasaan. Oleh karena itu arsitektur tidak selalu hanya bangunan, apa pun bisa saja merupakan suatu bentuk arsitektur, contohnya musik. Mungkin bagi masyarakat awam akan herang bila mendengar hal tersebut. Mereka mungkin akan bertanya, ”mengapa musik bisa menjadi bagian dari arsitektur?”     Untuk menjawab hal tersebut, Rasmussen (1964) dalam Experiencing Architecture mengemukakan bahwa arsitektur bukan hanya yang dapat dilihat dan diraba saja, yang didengar dan dirasa pun merupakan bagian dari arsitektur. Melalui pendengaran kita dapat menggambarkan sesuatu yang berhubungan dengan bentuk dan material. Pendengaran pun dapat mempengaruhi perasaan seseorang. Pada musik, di dalamnya ada irama yang dapat membawa suasana hati seseorang. Dan dengan mendengarkan irama tersebut muncul interpretasi yang mungkin akan berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Interpretasi itu secara tidak langsung akan mengarah ke suatu kualitas ruang. Meskipun hasil interpretasi tersebut bersifat maya, namun jika sudah dapat menginterpretasikan sebuah kualitas ruang , berarti sebenarnya secara tidak sadar kita sudah membentuk sebuah ruang di alam bawah sadar kita. Hal itu sama seperti arsitektur pada bangunan yang real, yang di dalamnya ada ruang dan memiliki kualitas ruang. Maka dari itu musik juga merupakan bagian dari arsitektur.      Selain musik, masih banyak hal lain di sekitar kita yang merupakan bagian dari arsitektur, baik yang sifatnya maya maupun nyata. Namun Paul Shepheard (1999), mengungkapkan bahwa architecture is not everything, Ia mengatakan, “So when I say architecture is not everything. I mean that there are other things in life and simultaneously. I mean that there are things that are not architecture, but which fit round it so closely that they help to show it is“.       Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa di sekitar kita ada yang merupakan arsitektur ada pula yang bukan. Dan keduanya berada bersamaan, sehingga seringkali kita sulit untuk membedakan antara keduanya. Contohnya rambu lalu lintas berupa penunjuk jalan. Apakah itu bentuk arsitektur atau bukan? Tentu akan ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut, karena memang tidak ada ketentuan khusus dan pasti antara keduanya.     Pada masyarakat awam, umumnya mereka menganggap rambu tersebut bukan bentuk arsitektur. Namun tidak menutup kemungkinan orang-orang yang berkecimpung di bidang arsitektur pun ada yang berpendapat demikian. Mereka umumya menganggap bahwa rambu yang merupakan sebuah tanda hanyalah berarti sebagai sebuah tanda biasa. Namun, bagi beberapa orang lain mereka tidak setuju dengan pendapat tersebut. Menurut mereka tanda merupakan bagian dari arsitektur, maka dari itu disebut sebagai bentuk arsitektur. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Derrida pembahasannya mengenai deconstruction, yang lebih menyangkut pembahasan mengenai text. Menurutnya, text (tanda) bukan merupakan instansi independen, setiap tanda menunjuk pada tanda-tanda lain. Dan keberadaan tanda berhubungan dengan ada dan hadirnya sesuatu. Dalam konteks ini, tanda tersebut adalah rambu yang menunjuk kepada keberadaaan yang lain, yang akhirnya akan membentuk suatu jaringan. Dan hal tersebut merupakan bagian dari arsitektur, karena dalam arsitektur pun tidak ada sesuatu yang bisa berdiri sendiri, semuanya saling berhubungan, bahkan dapat membentuk sebuah jaringan.       Seperti yang sudah dijelaskan di atas, arsitektur berhubungan dengan sesuatu yang ada di sekitar manusia dan erat kaitannya dengan kehidupan manusia, baik maya maupun nyata. Dan terkadang, kita sulit untuk dapat membedakannya. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur tidak bisa dilepaskan dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Wigglesworth dan Till (1998), “issue of Architectural Design attempts to capture the fragility of that distorted reflection, where image and reality blur”. Lebih lanjut Wigglesworth dan Till juga mengungkapkan : “we explicitly acknowledge the everyday as a productive context for the making, occupation, and criticism of architecture”.        Sesuatu yang merupakan suatu bentuk arsitektur pun bisa jadi merupakan sesuatu yang tidak kita sadari, tapi dekat dengan kehidupan kita, contohnya mengenai ugly and beauty. Banyak diantara kita yang menganggap kedua hal tersebut sebagai suatu keadaan yang memang ada dalam kehidupan, tapi bukan sebagai bentuk arsitektur. Ternyata pandangan mereka salah, kedua hal tersebut merupakan bagian dari arsitektur, tepatnya lebih kepada sense. Meskipun kedua hal tersebut sifatnya relatif, namun dalam arsitektur rasa akan sesuatu sangat penting artinya. Terutama bila hal tersebut berhubungan dengan sesuatu yang akan dihasilkan oleh seorang arsitek.      Dari semua pembahasan di atas menunjukkan bahwa arsitektur merupakan sesuatu yang kompleks, mulai dari asal mulanya sampai dengan definisinya. Dan dalam arsitektur subjektifitas memang menjadi sesuatu yang sering terjadi. Bahkan dalam pendefinisian mengenai arsitektur itu sendiri pun pandangan subjektif dari tiap orang menjadi penting, maka dari itu sulit untuk dapat benar-benar mendefinsikan arsitektur. Dan seperti yang sudah dijelaskan juga, arsitektur memang memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan kehidupan manusia. Dan hal tersebut jarang disadari oleh kita, sehingga wajar jika banyak yang beranggapan bahwa arsitektur hanya sekedar merancang bangunan, sementara di luar itu bukan merupakan bentuk arsitektur. Oleh karena itu kita perlu berpandangan terbuka jika ingin memahami arsitektur dengan baik.
  



Share:

Definition List

Unordered List

Definition list
Consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.
Lorem ipsum dolor sit amet
Consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.